Jumat, 12 Maret 2010

PENGARUH SALINITAS TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Adaptasi adalah suatu proses penyesuaian diri secara bertahap yang dilakukan oleh suatu organisme terhadap kondisi yang baru. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kemampuan adaptasi dari organisme tersebut adalah faktor abiotik yang meliputi fisika (suhu, penyinaran, densitas, tekanan, dan kekeruhan). Faktor yang lain adalah faktor biotik yaitu kelimpahan dan keragaman organisme, predator dan parasit. Faktor-faktor lingkungan tersebut suatu saat mengalami fluktuasi dan kadang-kadang ditemui kondisi yang ekstrim. Faktor tersebut dapat berubah secara harian dan musiman. Fluktuasi faktor tersebut akan mempengaruhi kehidupan organisme, baik terhadap proses fisiologis maupun tingkah lakunya; resisten dan kematian. Pada praktikum ini, proses adaptasi yang dicobakan menggunakan perlakuan salinitas dalam hubungannya dengan sistem metabolise tubuh ikan, menuju survival ikan tersebut.

Salinitas atau kadar garam adalah jumlah kandungan bahan padat dalam satu kilogram air laut, di mana seluruh karbonat telah diubah menjadi oksida, brom dan yodium yang telah disetarakan dengan klor dan bahan organik yang telah dioksidasi. Salinitas mempengaruhi kadar oksigen terlarut dalam air. Secara langsung, salinitas media akan mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan. Apabila osmotik lingkungan (salinitas) berbeda jauh dengan tekanan osmotik cairan tubuh (kondisi tidak ideal) maka osmotik media akan menjadi beban bagi ikan sehingga dibutuhkan energi yang relatif besar untuk mempertahankan osmotik tubuhnya agar tetap berada pada keadaan yang ideal.. Jadi salinitas media akan mempengaruhi pembelanjaan energi untuk osmoregulasi, yang disisi lain juga akan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan. Melalui praktikum ini, praktikan diajak untuk mengetahui kemampuan ikan dalam beradaptasi untuk mempertahankan keadaan homeostasis dalam tubuhnya terhadap perubahan lingkungan yang dimanipulasi dengan beberapa perlakuan salinitas.

B. Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum ini adalah:

  1. Mengetahui pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan ikan nila.
  2. mengetahui salinitas yang optimal untuk pertumbuhan ikan nila.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (kompress) dengan profil empat persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah type ctenoid. Ikan nila (Oreochromis niloticus) juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, beitu pula pada bagian analnya. Dengan posisi sirip anal dibelakang sirip dada (abdominal).

Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Sub Filum : Vertebrata

Kelas : Osteichtes

Sub kelas : Acanthoptherigii

Ordo : Percormorphii

Sub ordo : Percoidae

Famili : Cichlidae

Genus : Oreochromis

Spesies : Oreochromis niloticus

Ikan nila termasuk golongan ikan pemakan segala atau lazim disebut omnivore. Namun larva ikan nila tidak sanggup memakan makanan dai luar selama masih tersedia makanan cadangan berupa kuning telur yang melekat di bawah perut larva yang baru menetas. Hal ini berbeda dengan jenis ikan air tawar pada umumnya yang sesaat setelah menetas lubang mulut sudah terbuka. Setelah rongga mulut terbuka, larva ikan nila memakan tumbuh-tumbuhan dan hewan air berupa plankton. Jenis-jenis plankton yang biasa dimakan antara lain yaitu alga bersel tunggal maupun benthos dan krustase berukuran kecil. Makanan ini diperoleh dengan cara menyerapnya dalam air (Djarijah, 1995).

Salinitas merupakan salah satu parameter lingkungan yang mempengaruhi proses biologi dan secara langsung akan mempengaruhi kehidupan organisme antara lain yaitu mempengaruhi laju pertumbuhan, jumlah makanan yang dikonsumsi, nilai konversi makanan, dan daya kelangsungan hidup (Andrianto, 2005).

Menurut Boyd (1987) salinitas adalah kadar seluruh ion-ion yang terlarut dalam air, dinyatakan juga bahwa komposisi ion-ion pada air laut dapat dikatakan mantap dan didominasi oleh ion-ion tertentu seperti sulfat, chlorida, carbonat, natrium, calsium dan magnesium.

Salinitas sangat berpengaruh terhadap tekanan osmotik air, semakin tinggi salinitas semakin besar pula tekanan osmotiknya Semua ikan nila lebih toleran terhadap lingkungan payau. Ikan nila hitam tumbuh dengan sangat baik pada salinitas 15 ppt, blue tilapia (tilapia aurea) tumbuh dengan baik pada salinitas hingga di atas 20 ppt. Sedangkan nila merah mujair dapat tumbuh pada salinitas mendekati air laut. Namun demikian untuk ikan nila merah dan mujair, perkembangan alat reproduksinya mengalami penurunan pada salinitas di atas 10-15 ppt. Tilapia aurea dan ikan nila hitam dapat bereproduksi pada salinitas 10-15 ppt, namun performanya lebih baik pada kadar di bawah 5 ppt. Jumlah benih yang dihasilkan mengalami penurunan pada salinitas 10 ppt.

Menurut Andrianto (2005) Ikan nila tergolong ikan yang dapat bertahan pada kisaran salinitas yang luas dari 0 – 35 ppt. Ikan nila merupakan ikan yang biasa hidup di air tawar, sehingga untuk membudidayakan diperairan payau atau tambak perlu dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu secara bertahap sekitar 1 – 2 minggu dengan perubahan salinitas tiap harinya sekitar 2- 3 ppt agar ikan nila dapat beradaptasi dan tidak stres (Andrianto, 2005).

.

III. METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

  • Aquarium 11 buah
  • Air laut
  • Ikan Nila (Oreochromis niloticus) : @ 10 ekor
  • Instalasi aerasi
  • Timbangan digital
  • Penggaris
  • Pakan ikan

B. Cara Kerja

  1. Alat dan bahan disiapkan.
  2. Panjang dan berat ikan awal sebelum dimasukkan ke dalam aquarium yang diberi perlakuan salinitas diukur terlebih dahulu.
  3. Merumuskan jenis perlakuan yang akan diberikan, yaitu :
    • Perlakuan Kontrol : 0 ppt
    • Perlakuan kelompok 1 – 2 : 3 ppt
    • Perlakuan kelompok 3 – 4 : 5 ppt
    • Perlakuan kelompok 5 – 6 : 8 ppt
    • Perlakuan kelompok 7 – 8 : 12 ppt
    • Perlakuan kelompok 9 – 10 : 15 ppt
  4. Aquarium diisi dengan air sebanyak 30 liter, lalu diaerasi dalam aquarium sebelum diberi perlakuan.
  5. Saat diberi perlakuan sesuai dengan kadar salinitas yang sudah ditentukan, ketinggian air harus tetap 30 liter, lalu ikan nila dimasukkan dalam masing-masing aquarium sebanyak 10 ekor.
  6. Diamati ikan nila sebelum diberi perlakuan dan setelah diberi perlakuan.
  7. Pengamatan dilakukan selama 14 hari dan sampling untuk pengukuran panjang dan berat tubuh ikan pada hari ke-7 dan hari ke-14.
  8. Setiap hari ikan nila diberi pakan 5% dari berat tubuhnya.
  9. Amati tingkah laku ikan saat praktikum, termasuk dampak dari proses adaptasinya (feses, jumlah ikan yang mati, dan lain-lain).

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Gambar 1. grafik hubungan salinitas dengan berat ikan nila

R = 0,28809 x 100 %

R = 28,80 %

Gambar 2 hubungan salinitas terhadap pertumbuhan panjang ikan nila

R = 0,1964 X 100 %

R = 19,64 %

Gambar 3 hubungan salinitas dengan kelulusan hidup ikan nila

R = 0,55208 X 100 %

R = 55,208

B. Pembahasan

Nila merupakan ikan yang bersifat euryhaline sehingga habitat hidupnya sangat luas, meliputi perairan tawar, muara sungai dan payau, serta tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan yang cukup ekstrim. Hal itudapat dilihat dari pengamatan, bahwa ikan nila dapat hidup dengan baik pada salinitas 0 – 15 ppt.

Perubahan kadar salinitas mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan, sehingga ikan melakukan penyesuaian atau pengaturan kerja osmotik internalnya agar proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat bekerja secara normal kembali. Apabila salinitas semakin tinggi, ikan berupaya terus agar kondisi homeostasi dalam tubuhnya tercapai, hingga pada batas toleransi yang dimilikinya. Kerja osmotik tersebut memerlukan energi yang lebih tinggi pula. Sehingga semakin tinggi salinitas sampai titik maksimum, seharusnya pertumbuhan ikan nila meningkat, karena semakin tinggi kerja osmotik semakin besar pula tingkat konsumsi pakan.

Dari hasil pengamatan tersebut dapat dilihat pada grafik 1 dan grafik 2, bahwa antara salinitas dan pertumbuhan ikan nila, baik berat maupun panjang tidak memiliki hubungan, ini karena R-nya kurang dari 50 %. Seharusnya semakin tinggi salinitas akan semakin cepat pertumbuhanya, karena kebutuhan energi makin banyak. Tetapi hal itu harus di dukung dengan dosis pembberian pakan yang tepat. Pada praktikum pemberian pakan tidak konsisten. Sehingga salinitas tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan nila ( berat dan panjang).

Dari grafik dapat dilihat bahwa r-nya lebih dari 50 % dan kurang dari 60 %, ini berarti bahwa salinitas memiliki hubungan dengan kelulusan hidup ikan nila. Hal ini mebuktikan bahwa ikan nila merupkan ikan yang mampu beradaptasi dengan perubahan salinitas.


V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari pratikum yang dilaksanakan dapat disimpulkan:

1. Salinitas 0-15 ppt tidak berpengaruh pada pertumbuhan ikan nila

2. Salinitas 0 -15 ppt memberikan pengaruh yang sama pada pertumbuhan ikan nila.

B. Saran

Saran untuk pratikum ini agar lebih pemberian pakan rutin dan konsisten, sehingga dapat di ketahui pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan ikan nila.


DAFTAR PUSTAKA

Andrianto, T. T. 2005. Pedoman Praktis Budidaya Ikan Nila. Absolut. Yogyakarta.

Boyd, C. E. 1987. Water Quality Management In Pond Fish Culture. Intenasional Center For Aquaqulture Auburn University

Djarijah, A. S. 1995. Nila Merah, Pembenihan dan Pembesaran Secara Intensif. Kanisius. Yogyakarta

Sucipto, Adi. 2008. Pengaruh salinitas dalam proses ormoregulasi ikan. http://naksara.net/index.php?option=com_content&view=article&id=85:pengaruh-salinitas-dalam-proses-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar