Jumat, 12 Maret 2010

PENGARUH SALINITAS TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Adaptasi adalah suatu proses penyesuaian diri secara bertahap yang dilakukan oleh suatu organisme terhadap kondisi yang baru. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kemampuan adaptasi dari organisme tersebut adalah faktor abiotik yang meliputi fisika (suhu, penyinaran, densitas, tekanan, dan kekeruhan). Faktor yang lain adalah faktor biotik yaitu kelimpahan dan keragaman organisme, predator dan parasit. Faktor-faktor lingkungan tersebut suatu saat mengalami fluktuasi dan kadang-kadang ditemui kondisi yang ekstrim. Faktor tersebut dapat berubah secara harian dan musiman. Fluktuasi faktor tersebut akan mempengaruhi kehidupan organisme, baik terhadap proses fisiologis maupun tingkah lakunya; resisten dan kematian. Pada praktikum ini, proses adaptasi yang dicobakan menggunakan perlakuan salinitas dalam hubungannya dengan sistem metabolise tubuh ikan, menuju survival ikan tersebut.

Salinitas atau kadar garam adalah jumlah kandungan bahan padat dalam satu kilogram air laut, di mana seluruh karbonat telah diubah menjadi oksida, brom dan yodium yang telah disetarakan dengan klor dan bahan organik yang telah dioksidasi. Salinitas mempengaruhi kadar oksigen terlarut dalam air. Secara langsung, salinitas media akan mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan. Apabila osmotik lingkungan (salinitas) berbeda jauh dengan tekanan osmotik cairan tubuh (kondisi tidak ideal) maka osmotik media akan menjadi beban bagi ikan sehingga dibutuhkan energi yang relatif besar untuk mempertahankan osmotik tubuhnya agar tetap berada pada keadaan yang ideal.. Jadi salinitas media akan mempengaruhi pembelanjaan energi untuk osmoregulasi, yang disisi lain juga akan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan. Melalui praktikum ini, praktikan diajak untuk mengetahui kemampuan ikan dalam beradaptasi untuk mempertahankan keadaan homeostasis dalam tubuhnya terhadap perubahan lingkungan yang dimanipulasi dengan beberapa perlakuan salinitas.

B. Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum ini adalah:

  1. Mengetahui pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan ikan nila.
  2. mengetahui salinitas yang optimal untuk pertumbuhan ikan nila.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (kompress) dengan profil empat persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah type ctenoid. Ikan nila (Oreochromis niloticus) juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, beitu pula pada bagian analnya. Dengan posisi sirip anal dibelakang sirip dada (abdominal).

Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Sub Filum : Vertebrata

Kelas : Osteichtes

Sub kelas : Acanthoptherigii

Ordo : Percormorphii

Sub ordo : Percoidae

Famili : Cichlidae

Genus : Oreochromis

Spesies : Oreochromis niloticus

Ikan nila termasuk golongan ikan pemakan segala atau lazim disebut omnivore. Namun larva ikan nila tidak sanggup memakan makanan dai luar selama masih tersedia makanan cadangan berupa kuning telur yang melekat di bawah perut larva yang baru menetas. Hal ini berbeda dengan jenis ikan air tawar pada umumnya yang sesaat setelah menetas lubang mulut sudah terbuka. Setelah rongga mulut terbuka, larva ikan nila memakan tumbuh-tumbuhan dan hewan air berupa plankton. Jenis-jenis plankton yang biasa dimakan antara lain yaitu alga bersel tunggal maupun benthos dan krustase berukuran kecil. Makanan ini diperoleh dengan cara menyerapnya dalam air (Djarijah, 1995).

Salinitas merupakan salah satu parameter lingkungan yang mempengaruhi proses biologi dan secara langsung akan mempengaruhi kehidupan organisme antara lain yaitu mempengaruhi laju pertumbuhan, jumlah makanan yang dikonsumsi, nilai konversi makanan, dan daya kelangsungan hidup (Andrianto, 2005).

Menurut Boyd (1987) salinitas adalah kadar seluruh ion-ion yang terlarut dalam air, dinyatakan juga bahwa komposisi ion-ion pada air laut dapat dikatakan mantap dan didominasi oleh ion-ion tertentu seperti sulfat, chlorida, carbonat, natrium, calsium dan magnesium.

Salinitas sangat berpengaruh terhadap tekanan osmotik air, semakin tinggi salinitas semakin besar pula tekanan osmotiknya Semua ikan nila lebih toleran terhadap lingkungan payau. Ikan nila hitam tumbuh dengan sangat baik pada salinitas 15 ppt, blue tilapia (tilapia aurea) tumbuh dengan baik pada salinitas hingga di atas 20 ppt. Sedangkan nila merah mujair dapat tumbuh pada salinitas mendekati air laut. Namun demikian untuk ikan nila merah dan mujair, perkembangan alat reproduksinya mengalami penurunan pada salinitas di atas 10-15 ppt. Tilapia aurea dan ikan nila hitam dapat bereproduksi pada salinitas 10-15 ppt, namun performanya lebih baik pada kadar di bawah 5 ppt. Jumlah benih yang dihasilkan mengalami penurunan pada salinitas 10 ppt.

Menurut Andrianto (2005) Ikan nila tergolong ikan yang dapat bertahan pada kisaran salinitas yang luas dari 0 – 35 ppt. Ikan nila merupakan ikan yang biasa hidup di air tawar, sehingga untuk membudidayakan diperairan payau atau tambak perlu dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu secara bertahap sekitar 1 – 2 minggu dengan perubahan salinitas tiap harinya sekitar 2- 3 ppt agar ikan nila dapat beradaptasi dan tidak stres (Andrianto, 2005).

.

III. METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

  • Aquarium 11 buah
  • Air laut
  • Ikan Nila (Oreochromis niloticus) : @ 10 ekor
  • Instalasi aerasi
  • Timbangan digital
  • Penggaris
  • Pakan ikan

B. Cara Kerja

  1. Alat dan bahan disiapkan.
  2. Panjang dan berat ikan awal sebelum dimasukkan ke dalam aquarium yang diberi perlakuan salinitas diukur terlebih dahulu.
  3. Merumuskan jenis perlakuan yang akan diberikan, yaitu :
    • Perlakuan Kontrol : 0 ppt
    • Perlakuan kelompok 1 – 2 : 3 ppt
    • Perlakuan kelompok 3 – 4 : 5 ppt
    • Perlakuan kelompok 5 – 6 : 8 ppt
    • Perlakuan kelompok 7 – 8 : 12 ppt
    • Perlakuan kelompok 9 – 10 : 15 ppt
  4. Aquarium diisi dengan air sebanyak 30 liter, lalu diaerasi dalam aquarium sebelum diberi perlakuan.
  5. Saat diberi perlakuan sesuai dengan kadar salinitas yang sudah ditentukan, ketinggian air harus tetap 30 liter, lalu ikan nila dimasukkan dalam masing-masing aquarium sebanyak 10 ekor.
  6. Diamati ikan nila sebelum diberi perlakuan dan setelah diberi perlakuan.
  7. Pengamatan dilakukan selama 14 hari dan sampling untuk pengukuran panjang dan berat tubuh ikan pada hari ke-7 dan hari ke-14.
  8. Setiap hari ikan nila diberi pakan 5% dari berat tubuhnya.
  9. Amati tingkah laku ikan saat praktikum, termasuk dampak dari proses adaptasinya (feses, jumlah ikan yang mati, dan lain-lain).

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Gambar 1. grafik hubungan salinitas dengan berat ikan nila

R = 0,28809 x 100 %

R = 28,80 %

Gambar 2 hubungan salinitas terhadap pertumbuhan panjang ikan nila

R = 0,1964 X 100 %

R = 19,64 %

Gambar 3 hubungan salinitas dengan kelulusan hidup ikan nila

R = 0,55208 X 100 %

R = 55,208

B. Pembahasan

Nila merupakan ikan yang bersifat euryhaline sehingga habitat hidupnya sangat luas, meliputi perairan tawar, muara sungai dan payau, serta tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan yang cukup ekstrim. Hal itudapat dilihat dari pengamatan, bahwa ikan nila dapat hidup dengan baik pada salinitas 0 – 15 ppt.

Perubahan kadar salinitas mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan, sehingga ikan melakukan penyesuaian atau pengaturan kerja osmotik internalnya agar proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat bekerja secara normal kembali. Apabila salinitas semakin tinggi, ikan berupaya terus agar kondisi homeostasi dalam tubuhnya tercapai, hingga pada batas toleransi yang dimilikinya. Kerja osmotik tersebut memerlukan energi yang lebih tinggi pula. Sehingga semakin tinggi salinitas sampai titik maksimum, seharusnya pertumbuhan ikan nila meningkat, karena semakin tinggi kerja osmotik semakin besar pula tingkat konsumsi pakan.

Dari hasil pengamatan tersebut dapat dilihat pada grafik 1 dan grafik 2, bahwa antara salinitas dan pertumbuhan ikan nila, baik berat maupun panjang tidak memiliki hubungan, ini karena R-nya kurang dari 50 %. Seharusnya semakin tinggi salinitas akan semakin cepat pertumbuhanya, karena kebutuhan energi makin banyak. Tetapi hal itu harus di dukung dengan dosis pembberian pakan yang tepat. Pada praktikum pemberian pakan tidak konsisten. Sehingga salinitas tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan nila ( berat dan panjang).

Dari grafik dapat dilihat bahwa r-nya lebih dari 50 % dan kurang dari 60 %, ini berarti bahwa salinitas memiliki hubungan dengan kelulusan hidup ikan nila. Hal ini mebuktikan bahwa ikan nila merupkan ikan yang mampu beradaptasi dengan perubahan salinitas.


V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari pratikum yang dilaksanakan dapat disimpulkan:

1. Salinitas 0-15 ppt tidak berpengaruh pada pertumbuhan ikan nila

2. Salinitas 0 -15 ppt memberikan pengaruh yang sama pada pertumbuhan ikan nila.

B. Saran

Saran untuk pratikum ini agar lebih pemberian pakan rutin dan konsisten, sehingga dapat di ketahui pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan ikan nila.


DAFTAR PUSTAKA

Andrianto, T. T. 2005. Pedoman Praktis Budidaya Ikan Nila. Absolut. Yogyakarta.

Boyd, C. E. 1987. Water Quality Management In Pond Fish Culture. Intenasional Center For Aquaqulture Auburn University

Djarijah, A. S. 1995. Nila Merah, Pembenihan dan Pembesaran Secara Intensif. Kanisius. Yogyakarta

Sucipto, Adi. 2008. Pengaruh salinitas dalam proses ormoregulasi ikan. http://naksara.net/index.php?option=com_content&view=article&id=85:pengaruh-salinitas-dalam-proses-

BUDIDAYA NILA MERAH

TEHKNIK BUDIDAYA IKAN NILA



Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara dengan luas perairan hampir dua pertiga dari luas wilayahnya yaitu sekitar 70%. Wilayah perairan di Indonesia berdasarkan kandungan kadar garamnya atau salinitas dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis perairan yaitu perairan tawar, perairan payau dan perairan laut.
Dari ketiga jenis perairan tersebut dapat dihasilkan suatu produksi perikanan yang memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Potensi perikanan budidaya secara nasional diperkirakan sebesar 15,59 juta hektar (Ha) yang terdiri dari potensi air tawar 2,23 juta ha, air payau 1,22 juta ha dan budidaya laut 12,14 juta ha. Pemanfaatannya hingga saat ini masing-masing baru 10,1 persen untuk budidaya ikan air tawar, 40 persen pada budidaya air payau dan 0,01 persen untuk budidaya laut, sehingga secara nasional produksi perikanan budidaya baru mencapai 1,48 juta ton.
Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (Freddy Numberi, 2006), akan menargetkan produksi perikanan pada tahun 2006 mencapai 7,7 juta ton atau meningkat sebesar 13%, yang terdiri dari produksi perikanan tangkap sebesar 5,1 juta ton dan produksi perikanan budidaya sebesar 2,6 juta ton, serta konsumsi ikan menjadi 28kg/kapita/tahun.
PEMBESARAN IKAN NILA

Lama pemeliharaan ikan nila sangat bergantung kepada ukuran ikan yang akan dipanen. Sebagai bahan pertimbangan ada 4 ukuran ikan nila yang diproduksi dipasaran yaitu :
1. Ukuran 100 gram, umurnya kurang lebih 3 - 4 bulan
2. Ukuran 250 gram, umurnya kurang lebih 4 - 6 bulan.
3. Ukuran 500 gram, umurnya kurang lebih 6 – 8 bulan.
4. Ukuran diatas 800 gram umurnya kurang lebih 9 - 12 bulan.

Proses pembesaran
Ada berbagai macam cara / proses yang dilakukan untuk membesarkan ikan nila hingga mencapai ukuran konsumsi. Proses pembesaran ikan nila dapat dikelompokkan menjadi:
1. Pembesaran tradisional
Pembesaran ikan secara tradisional yaitu pembesaran ikan yang hanya mengandalkan pakan alami yang terdapat dalam kolam budidaya. Padat penebaran disesuaikan dengan daya dukung kolam dan pakan yang tersedia di kolam pembesaran.
Dalam pembesaran tradisional ini kesuburan perairan akan sangat menentukan tumbuhnya pakan alami. Misalnya pembesaran ikan pada kolam tergenang, pembesaran ikan disawah.
2. Pemeliharaan secara ekstensif
Pada pemeliharaan ini kolam yang digunakan relatif cukup besar dari 200 m2, kepadatan ikan relatif rendah (1 ekor per m2) dan pakan yang diberikan hanya mengandalkan pakan yang tumbuh dari kolam. Benih yang ditebarkan biasanya campur kelamin dan berukuran 10 gram per ekor.
3. Pembesaran semi intensif
Pembesaran ikan semi intensif yaitu pembesaran ikan yang lebih mengutamakan pakan alami yang terdapat pada kolam dan diberi pakan tambahan yang tidak lengkap kandungan gizi dari pakan tersebut.
Pada pembesaran semi intensif ini padat penebaran lebih tinggi dibandingkan dengan tradisional. Misalnya melakukan pembesaran ikan pada kolam air tenang dengan memberikan pakan tambahan berupa dedak selain pakan alami yang terdapat pada kolam pembesaran.
Perbedaan utama dalam pemeliharaan ekstensif adalah kepadatan benih yang ditebar, dimana untuk semi intensif padat penebarannya 5 - 10 ekor per m2 dan kolam diberi pupuk dan pakan tambahan kepada ikan nila berupa dedak atau ampas tahu, daun sente sebanyak 5 - 10% dari bobot ikan setiap hari
4. Pembesaran intensif
Pembesaran ikan intensif yaitu pembesaran ikan yang dalam proses pemeliharaannya mengandalkan pakan buatan dalam pemberian pakannya serta dilakukan pada wadah yang terbatas dengan kepadatan maksimal. Dalam pembesaran secara intensif ini harus diperhitungkan kualitas dan kuantitas air yang masuk kedalam kolam pembesaran.
Pada pemeliharaan ikan nila secara intensif, biasanya dilakukan di jaring terapung atau kolam air deras. Padat penebaran ikan nila di jarring terapung adalah 400 - 500 ekor per m3 dengan bobot awal benih 15 - 25 gram per ekor, sedangkan di kolam air deras kepadatan tebarnya 10-20 ekor per m2.
Pada pemeliharaan ini sumber energi bagi ikan untuk tumbuh dan berkembang adalah pakan buatan dalam bentuk pellet yang diberikan sebanyak 3 - 5% sehari dan frekuensi pemberian pakan 3 - 5 kali sehari. Pakan buatan tersebut harus mengandung protein 20 - 30%.
SISTIM PEMELIHARAAN IKAN NILA

Ikan nila mempunyai ciri khas tersendiri dimana pertumbuhan ikan nila yang dipelihara secara tunggal kelamin yaitu ikan jantan lebih cepat tumbuh dibandingkan ikan nila yang dipelihara secara campuran (jantan dan betina). Oleh karena itu banyak petani ikan yang lebih suka memelihara ikan nila jantan. Sistem pemeliharaan ikan nila berdasarkan jenis kelamin ini disebut monokultur sedangkan untuk pemeliharaan ikan nila dengan jenis ikan lainnya disebut dengan polikultur. Pada pemeliharaan ikan untuk mencapai ukuran konsumsi dapat digunakan beberapa macam kolam pemeliharaan :
1. Kolam empat persegi panjang dengan luas 200m2 -500m2, kedalaman air 1m - 1,25m, dasar kolam dapat tanah atau beton. Penebaran benih pada pemeliharaan ikan nila di kolam berukuran 10 gram per ekor
2. Kolam jaring terapung yang berbentuk bujur sangkar dengan ukuran minimal 1m2 - 4m2 dan maksimal 9m2 – 49m2 , yang terbuat dari bahan jaring dengan kedalaman air 1,5m – 2m. Penebaran benih pada pemeliharaan ikan nila di kolam terapung biasanya 25 gram per ekor.
3. Hampang atau keramba yang dapat dilakukan diperairan dasar yang dangkal dengan kedalaman air 1m - 2m.
4. Mina padi yaitu pemeliharaan ikan nila disawah.
PEMBERIAN PAKAN

Pakan merupakan sumber energi bagi ikan. Tanpa makanan ikan tidak akan tumbuh dan berkembang biak. Pakan yang dapat diberikan untuk ikan nila adalah:
1. Pakan alami adalah makanan hidup bagi larva dan benih ikan yang diperoleh dari perairan / kolam atau membudidayakannya secara terpisah. Ikan nila merupakan ikan pemakan plankton yang tumbuh disekitarnya. Persiapan pakan alami di kolam pemeliharaan dilakukan dengan pemupukan awal 3-5 hari sebelum penebaran benih dan pemupukan susulan setelah pemeliharaan berjalan agar ketersediaan pakan alami di kolam tersebut tetap ada.
2. Pakan tambahan adalah pakan yang diberikan dalam bentuk apa adanya kepada ikan seperti daundaunan, limbah rumah tangga, keong dan lain-lain. Sedangkan pakan buatan adalah pakan yang dibuat dengan susunan bahan tertentu dengan gizi sesuai keperluan.
3. Pakan buatan dapat berbentuk pellet, larutan (emulsi dan suspensi), lembaran (flake atau waver) dan remahan. Ikan nila yang dipelihara secara intensif dan semi intensif memerlukan pakan buatan. Bentuk pakan buatan yang biasa diberikan adalah pellet. Garis tengah pellet berkisar antara 2-4mm.
PENGELOLAAN KUALITAS AIR

Pengelolaan kualitas adalah cara pengendalian kondisi air di dalam kolam budidaya sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan hidup bagi ikan yang akan dipelihara. Dalam budidaya ikan nila di kolam agar ikan dapat tumbuh dan berkembang maka kondisi air kolam budidaya harus sesuai dengan kebutuhan ikan nila. Variabel kualitas air yang sangat berpengaruh terhadap ikan nila antara lain adalah:
1. Suhu air.
Suhu air merupakan factor penting yang harus diperhatikan karena dapat mempengaruhi laju metabolisme dalam tubuh ikan. Pada suhu air yang tinggi maka laju metabolisme akan meningkat, sedangkan pada suhu yang rendah maka laju metabolisme akan menurun.
Dengan suhu yang optimal maka laju metabolisme akan optimal. Pertumbuhan ikan nila sangat dipengaruhi oleh suhu air dalam usaha pembesaran atau pembenihan. Suhu air sangat berpengaruh terhadap aktifitas saluran pencernaan benih ikan nila.
Makanan alami yang berupa detritus dan fauna dasar selesai dicerna dalam waktu 1,68 jam pada suhu 27 – 28oC dan 1,31 jam pada suhu 32-33 oC. Pada suhu 27 – 28oC pakan zooplankton dapat dicernakan dalam waktu 2,2 jam. Ikan dapat mencernakan makanannya selama 2,5 – 3 jam pada suhu 30oC. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka suhu optimum untuk pertumbuhan ikan nila adalah 25 – 30oC.
2. Volume air
Pertumbuhan ikan nila yang dipelihara dalam air mengalir lebih cepat daripada yang dipelihara dalam air tergenang. Dalam kondisi air mengalir, ikan nila dengan bobot awal 9,1 gram diberi pakan pellet 25% protein dan feeding ratenya 3,5% dalam waktu seminggu akan mencapai bobot 34,2 gram. Selain itu volume air sangat menentukan padat penebaran ikan nila yang optimal. Padat penebaran ikan nila di kolam adalah 30 ekor/ m2.
3. Kadar oksigen terlarut
Untuk dapat hidup manusia membutuhkan oksigen begitu juga dengan ikan. Oksigen yang dibutuhkan ikan yang hidup didalam air disebut dengan oksigen terlarut.
Ikan nila merupakan ikan yang tahan terhadap kekurangan oksigen terlarut dalam air, namun pertumbuhan ikan ini akan optimal jika kandungan oksigen terlarut lebih dari 3 ppm. Kandungan oksigen terlarut kurang dari 3 ppm dapat menyebabkan ikan tidak dapat tumbuh dan akhirnya mati.
4. Kadar garam (salinitas)
Ikan nila mempunyai toleransi salinitas yang cukup luas, tetapi pertumbuhan ikan nila pada kadar garam lebih dari 30% akan terhambat. Pada kadar garam yang tinggi ikan membutuhkan energi yang minim untuk osmoregulasi sehingga energi yang digunakan untuk pertumbuhan berkurang.
5. Cemaran lingkungan
Ikan nila yang dipelihara pada musim kemarau banyak yang mati. Hal ini diakibatkan oleh pengaruh secara tidak langsung dari sinar matahari yang dapat meningkatkan keasaman (pH) perairan. Gejala mabuk pada ikan nila dapat diakibatkan dari akitifitas berenang ikan yang cepat dipermukaan dengan gerakan tidak beraturan dan tutup insang
bergerak aktif. Selain itu air budidaya yang tercemar minyak akan menyebabkan kerusakan sel-sel saluran pencernaan. Oleh karena itu agar ikan nila tunbuh dengan cepat air budidayanya tidak boleh tercemar baik oleh limbah industri maupun rumah tangga.
Dalam air budidaya ikan yang baik sepintas dapat dilihat dari keruh atau tidaknya air kolam. Untuk mengetahui tingkat kekeruhan air kolam dapat dilihat dari tingkat kecerahan air kolam dengan menggunakan alat pengukur yang disebut secchi disk atau keeping secchi.
Kecerahan yang baik untuk kehidupan ikan nila di kolam berkisar antara 25-40 cm. Artinya jarak batas pengelihatan terhadap keeping secchi adalah berkisar antara 25-40 cm dari atas permukaan perairan. Kecerahan kurang dari 25 cm tidak menguntungkan karena mengakibatkan rendahnya kandungan oksigen terlarut di kolam. Pada kolam budidaya yang keruh maka jarak batas penglihatan terhadap keeping secchi rendah yang berarti kolam tercemar bahan organik atau Lumpur.
PENGELOLAAN KESEHATAN IKAN

Dalam memelihara ikan nila di kolam selalu ada saja kendalanya diantaranya adalah terhadap hama dan penyakit dalam kolam pemeliharaan. Hama yang biasa terdapat dikolam pemeliharaan adalah cladocera sebagai pesaing/kompetitor, copepoda sebagai predator benih, larva,kumbang air, serangga air dan lain-lain.
Hama tersebut kadang-kadang sulit untuk dihilangkan. Pengendalian hama yang paling mudah melakukan penyaringan terhadap air yang masuk kedalam kolam pemeliharaan. Penyakit ikan dikolam pemeliharaan akan muncul jika kondisi perairan kolam (kualitas air kolam) rendah, hal ini dapat menyebabkan daya tahan tubuh ikan menurun. Penyakit ikan ini dapat terjadi akibat interaksi antar ikan itu sendiri, penyakit dan lingkungan yang buruk.
Lingkungan yang buruk sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan ikan. Dengan lingkungan yang buruk maka daya tahan tubuh ikan menurun sehingga penyakit akan mudah menyerang ikan.
Jenis-jenis penyakit ikan antara lain adalah penyakit pendarahan, penyakit jamur, penyakit bakteri. Setelah ketiga hal utama yang telah di jelaskan diatas dilakukan dengan baik maka dalam memelihara ikan nila akan diperoleh produksi ikan nila yang cukup tinggi dan efisien.
KESIMPULAN

Budidaya ikan merupakan suatu kegiatan yang sangat penting saat ini dan masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan ikan merupakan salah satu jenis pangan yang sangat dibutuhkan oleh manusia yang mempunyai harga jual relatif murah dan mempunyai kandungan gizi yang lengkap.
Dengan mengkonsumsi ikan maka kebutuhan gizi manusia akan terpenuhi. Oleh karena itu kemampuan sumberdaya manusia untuk memproduksi ikan budidaya sangat dibutuhkan. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dan keterbatasan lahan budidaya selanjutnya, maka dibutuhkan suatu teknologi budidaya ikan pada lahan yang terbatas dan produktivitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Pembesaran ikan merupakan salah satu proses dalam budidaya ikan yang bertujuan untuk memperoleh ikan ukuran konsumsi. Pada usaha budidaya ikan pembesaran merupakan segmen usaha yang banyak dilakukan oleh para pembudidaya ikan. Dalam melakukan pembesaran ikan ini relatif tidak terlalu sulit karena ketrampilan yang dibutuhkan tidak sesulit dalam melakukan pembenihan ikan.
Pada kegiatan pembesaran ikan yang perlu diperhatikan antara lain adalah wadah yang akan digunakan dalam proses pembesaran, padat penebaran, pola pemberian pakan, pencegahan terhadap hama dan penyakit ikan, pengontrolan pertumbuhan (sampling, grading dan sortasi) serta pengelolaan kualitas air.
Daftar Pustaka
1. Sumantadinata, K., 1983. Pengembangbiakan Ikan-ikan Peliharaan di Indonesia. Sastra Hudaya.
2. Sukma, O.M., 1987. Budidaya Ikan. Jakarta: Depdikbud.
3. Mujiman, A. 1987. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
4. Kurniastuty, dkk., 2004. Hama dan Penyakit Ikan. Balai budidaya Laut Lampung. Lampung.
5. Gusrina Budidaya Ikan Jilid 1 untuk SMK ---- Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
6. Ikan nila; http://wikipedia
7. Teknik Pembibitan Ikan; http://pelitabaraapi.blogspot.com/